“Kenapa Malaysia Terlihat Lebih Maju?”

Arash, pria berkewarganegaraan Iran adalah penanya kalimat di atas. Saya dan Bli Ade (owner SP Law Office) bertemu Arash saat dia meminta nasehat hukum tentang hukum tanah di Indonesia. Arash menanyakan masalah itu karena dia membandingkan hukum tanah di dua negara, yakni Indonesia dan Malaysia, negara yang pernah ia kunjungi sebelum ke Bali.

Lebih lanjut dia bilang, “Padahal sejak saya di Bali saya perhatikan, orang Indonesia – personally – lebih maju dibandingkan orang Malaysia. Kalian lebih terbuka dengan dunia luar dibandingkan orang Malaysia. Kalian juga lebih independent”

“Ya, itulah kelebihan sekaligus kekurangan kami sejauh ini, dibandingkan mereka” jawab saya. Kita lebih merdeka dibandingkan mereka. “Kami berbicara lebih lantang dibandingkan mereka” sambung saya lagi. Walaupun blum sepenuhnya merdeka, bisik saya dalam hati.

Secara jujur saya bilang, kita blum sepenuhnya merdeka. Tapi ndak apa-apa. Kita toh baru belajar untuk itu. Masyarakat kita blum terbiasa untuk merdeka. Kita masih dibayangi masa lalu yang selalu terbelenggu dan terikat. Saat kita mendapatkan kemerdekaan itu, masih banyak kesalahan yang kita lakukan.

Kebebasan dalam berbicara misalnya. Banyak perpecahan yang belakangan timbul karena kita blum terbiasa menerima kritik secara terbuka. Dulu mana ada orang yang berani melakukannya, lebih-lebih terhadap pemerintah yang berkuasa. Sekarang, di saat orang lebih boleh berbicara, beberapa orang masih blum siap menerimanya. Masih mending kalau beda pendapat itu dinyatakan secara elegan. Kebanyakan yang ada, sebuah kritik dijawab dengan emosi bahkan dengan kekerasan. Mulai dari kekerasan verbal, sampai pada kekerasan fisik.

Begitu pun dengan orang yang berbicara. Banyak orang yang memanfaatkan moment kebebasan berbicara ini secara berlebihan dan salah pula. Misalnya, mengata-ngatai orang lain di depan umum. Contohnya adalah manuver “black campaign” yang dilakukan saat kampanye kemarin. Kenapa di saat kita dibebaskan untuk berbicara, kita malah lebih banyak membicarakan kejelekan orang lain, dibandingkan membicarakan kelebihan diri sendiri. Apalagi di masa kampanye, yang seharusnya jadi ajang promosi diri.

Kebebasan berbicara kemudian “diperparah” dengan kebebasan bertindak atau berbuat. Setiap orang sekarang boleh melakukan apapun yang ingin dilakukan. Tapi kebebasan itu cenderung dilakukan berlebihan. Kita lihat saja kerusuhan yang sering terjadi di hampir setiap demonstrasi. Itu karena pendemo dan petugas keamanan memiliki interpretasi yang berbeda mengenai kata “kebebasan”.

Begitu juga dengan penguasa. Mereka blum terbiasa untuk membebaskan rakyatnya. Batasan memang harus dibuat, tapi terkadang batasan yang ada sekarang berlebihan. Banyak peraturan yang dibuat untuk memasung kemerdekaan. Bahkan, cara berpakaian pun sekarang sudah dibatasi oleh undang-undang. Berlebihan? Tentu saja.

Tapi bagaimana ya. Kita jelas sangat berbeda dibandingkan negara lain. Kita hidup bernegara dalam budaya dan adat yang berbeda. Kita semua tau, budaya ketimuran kita, masih “mengharamkan” kebebasan itu. Banyak pantangan yang ndak boleh kita langgar. Orang ndak boleh berbicara sembarangan, harus berkata sopan, ndak boleh menyakiti orang lain, dsb., adalah contoh budaya yang sejak lama mewarnai hidup orang Indonesia.

Cuma seperti yang saya bilang, kita akan mampu melewati “masa belajar” ini dengan baik. Kalau kita mampu bertahan di bawah tekanan orde baru selama 32 tahun, kenapa kita ndak mampu melewati masa ini? Selama kita mampu menikmati kebebasan yang kita terima dengan sekaligus menghormati kewajiban yang harus kita emban, kita akan segera melewati masa suram “belajar” untuk bebas ini. Begitu juga dengan penguasa. Mereka juga harus belajar untuk memerdekakan rakyatnya dari segala belenggu, dengan tetap mengingatkan kewajiban secara adil.

Kembali ke topik Malaysia. Kita ndak usah minder. Kita pernah terlihat lebih maju dibandingkan mereka saat ini. Tapi untuk apa terlihat bagus dari luar kalau di dalam kita menderita? Iya kan? Jangan pernah merasa rakyat Malaysia bahagia di dalam sana. Beberapa teman warga negara Malaysia yang saya temui di Jogja mengatakan hal itu. Mereka masih terpenjara, persis seperti kita sewaktu jaman orde baru.

Sejak dulu Indonesia selalu selangkah lebih maju dari Malaysia. Kalau sekarang mereka banyak tingkah terhadap kita, hehe, mereka tuh masih bocah! Seperti kejadian minggu ini, di mana kapal perang mereka nekat memasuki wilayah laut Indonesia. Saat dikejar kapal perang kita, mereka bermanuver zig-zag di depan kapal perang kita yang terus membuntuti mereka sampai keluar. Ya ampun, itu ‘kan tingkah bocah banget?

Maka, saya pun cuma bisa bilang ke Arash, “Kamu harus tinggal lebih lama di Malaysia untuk bisa menemukan jawaban kenapa mereka terlihat lebih maju dibandingkan kami. Maka selanjutnya kamu akan bertanya, kenapa mereka selalu berada di belakang Indonesia”

Mr. Arash manggut-manggut. “Saya setuju” jawabnya. Hehe!

4 Responses to ““Kenapa Malaysia Terlihat Lebih Maju?””


  1. macangadungan

    ya soalnya majunya di bidang apa dulu nih?
    beberapa hal secara kasat mata malaysia memang lebih maju di banding Indonesia. tp doalam beberapa hal, Indonesia lebih baik dibanding malaysia…

    Saya benar-benar ndak percaya mereka lebih maju dalam beberapa hal. Mereka sekarang adalah Indonesia jaman Pak Harto. Jadi kita sudah selangkah lebih awal. Ntar juga mereka akan mengalami masa seperti Indonesia sekarang.

  2. a!

    pertama, indonesia bukan pernah “terlihat” lebih maju tapi memang lebih maju dibanding malaysia.

    kedua, aku ga iso nangkep paragraf sebelum terakhir. kuwi maksudnya opo? kok bingung yo aku. kamu mengakhiri tulisanmu yg bagus justru dg paragraf yg membingungkan.

    atau aku yg lagi mabuk ya? :D


    Pertama, oke aku salah.

    Kedua, semoga yang bingung cuma kamu, Ton. :D

  3. wandi

    Ya..Indonesia tidak pernah terkalahkan oleh Malaysia.
    Banyak banget org Malaysia yg kagum dengan Indonesia.
    Karena sebenarnya yg truly Asia ya Indonesia :-)
    Bahkan bisa kita bilang “Indonesia Is The Miniature Of The World”
    Banyak yg mirip orang Eropa di Manado, banyak yg mirip orang Thailand di Bandung, banyak yg mirip orang Afrika di Papua (bahkan salju yang ada di Eropa dan Amerika bisa kita temukan juga di Puncak Jayawijaya) , Bali sama dengan wakil India bahkan Mr.Obama pun mengagumi kemajemukan Indonesia…:-)
    Indonesia mungkin saja hanya mismanagement akibat warisan pemerintahan masa lalu dan kurang disiplin dalam kehidupan sehari-hari
    Tapi apapun itu, Indonesia tetap salah satu negara penting di dunia yang sebenarnya selalu menjadi incaran negara-negara lain sejak dulu .
    Salam kenal :-)


    Saya setuju dengan opini kurang disiplinnya. Terima kasih. Salam kenal kembali ya..

  4. wira

    setuju… dan kalau pun mereka lebih maju daripada kita, apakah itu sebuah masalah? so what gitu lho….

    Saya rasa ndak ada orang yang pernah mempermasalahkan kalau Malaysia ternyata lebih maju dari Indonesia. Tapi akan menjadi masalah kalau mereka bertindak semaunya terhadap Indonesia.