Letjen. (Purn) Prabowo Subianto

Belakangan ini, nama orang yang saya jadikan judul tulisan kali ini sering banget muncul di tivi, koran, dan internet. Semuanya karena ia dianggap sebagai salah satu bakal capres yang akan ikut bertarung memperebutkan kursi presiden republik ini. Parpolnya pun, Gerindra, mampu menarik perhatian calon pemilih karena gencar berkampanye di tivi.

Tapi seminggu belakangan, ketenarannya sedikit terusik dengan terbitnya buku Letjen. (Purn) Sintong Pandjaitan yang berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Buku Pak Sintong ini melengkapi semua kontroversi yang mengarah ke Pak Prabowo. Karena seringnya, Pak Prabowo masuk dan tayang di tivi, saya jadi tertarik untuk tau kisahnya waktu masih aktif di seragam loreng hijau dulu. Semua yang saya tulis di sini, saya dapat dari berbagai sumber.

Prabowo Subianto, lahir dari keluarga intelektual pada 17 Oktober 1951. Ayahnya, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo (baca : Sumitro Joyohadikusumo) sampai saat ini dianggap sebagai salah satu begawan ekonomi Indonesia. Didikan ayahnya, membesarkan Prabowo sebagai remaja cerdas dan pintar. Saya menemukan data bahwa Prabowo menghabiskan masa SMA-nya di American School in London, Inggris. Setamat sekolah pun, Prabowo diterima untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi 3 universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Tapi kemudian Prabowo memilih meninggalkan habitat keluarganya di bidang ekonomi untuk masuk Akabri Darat di Magelang (1970). Masa tugasnya kemudian lebih banyak dilewatkan sebagai pasukan tempur. Tahun 1976, dengan pangkat Letnan Dua, Prabowo menjadi Komandan Peleton Grup I Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha – nama lama Kopassus). Tahun 1977, Prabowo menjadi Komandan Kompi Nanggala 28 Kopassandha, sampai tahun 1980.

Karena pengalamannya ini, ndak ada yang meragukan kemampuan tempurnya sebagai tentara. Pasukan yang dipimpinnya, bekerja sama dengan beberapa anggota Batalyon 744, berhasil menewaskan Presiden dan Menteri Pertahanan Fretilin, Nicolao Dos Reis Labato di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Sewaktu bertugas di Timtim, Prabowo sebenarnya nyaris tewas karena sempat terkepung pasukan Fretilin. Di saat terkepung, pasukan Fretilin membakar habis tempat persembunyian Prabowo. Tapi layaknya Rambo, Prabowo berhasil menyelamatkan diri dengan masuk ke sebuah lubang dan bertahan di sana selama sehari penuh.

Setelah menempuh pendidikan di Grenzschutzgruppe 9 di Jerman Barat, Prabowo ditunjuk sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 dengan pangkat Kapten pada tahun 1981. Bisa saya bilang, mulai dari sini karier Prabowo memasuki masa keemasannya. Ditambah lagi, Prabowo kemudian menjadi menantu Presiden Soeharto dengan menikahi Siti Hediati Harijadi (Titiek Prabowo). Tapi justru menurut saya, menjadi menantu Pak Harto malah menjerumuskan kariernya di angkatan bersenjata.

Menurut Letjen. (Purn) Sintong Pandjaitan, sejak menjadi menantu presiden Prabowo berubah haluan. Prabowo yang awalnya adalah prajurit yang idealis, yang selalu bicara tentang kualitas militer, mulai berubah menjadi sosok yang hobi membicarakan tentang kenegaraan, pemerintahan, dan kekuasaan. Banyak pihak yang mengatakan bahwa perubahan Prabowo ini disebabkan oleh kedekatannya dengan politikus Golkar.

Memang, akhirnya Prabowo meraih puncak kariernya sebagai Panglima Komando Strategi dan Cadangan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Pangkostrad) setelah menjadi menantu presiden. Tapi banyak pihak yang yakin, Prabowo tetap mampu meraih jabatan itu bahkan mungkin lebih tinggi lagi tanpa status menantu presiden.

Sehari setelah Pak Harto diturunkan sebagai presiden, Prabowo dimutasi oleh Habibie ke posisi yang ndak strategis lagi. Banyak pihak melihat, kedekatan Prabowo dengan Pak Harto merubah pikiran Prabowo, yang awalnya cuma ingin mengabdi kepada Negara sebagai prajurit, menjadi ikut aktif di dunia politik. Karena posisinya di bidang politik yang dianggap kuat, lawan-lawan politiknya berusaha menjatuhkan Prabowo. Jabatan terakhirnya di tentara adalah Komandan Sekolah Staf Dan Komando ABRI sebelum akhirnya pensiun dini.

Sebagai tentara, Prabowo memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Koleksi buka sejarah dan militernya, bisa dibilang komplit karena salah satu hobinya adalah membeli buku saat bertugas ke luar negeri. Kemampuan berbahasa asingnya pun mengagumkan dengan menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan Belanda.

Setelah pensiun, nama Prabowo mulai dikaitkan dengan sejumlah peristiwa yang terkait dengan pelanggaran HAM, seperti dugaan bahwa Prabowo adalah dalang penculikan dan penghilangan paksa sejumlah aktivis. Prabowo sendiri mengakui memerintahkan eksekusi operasi ini. Tapi, sampai sekarang Prabowo ndak pernah diadili untuk dugaan ini. Malah, beberapa korban penculikan waktu itu, seperti Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang dan Desmond Junaidi Mahesa sekarang bergabung bersama Prabowo di Gerindra.

Prabowo juga dituduh mendalangi kerusuhan Mei 1998 dengan tujuan berhasil mengambil alih kursi presiden dari tangan mertuanya. Tapi Prabowo membantahnya, karena ia merasa ndak logis kalau ia menjatuhkan Pak Harto. Kalau saya pikir-pikir memang ndak logis Prabowo mendalangi kejatuhan Pak Harto karena tentu saja Prabowo bisa lebih dari sekedar Pangkostrad kalau Pak Harto tetap memimpin negara.

Tapi dugaan yang lebih kuat adalah ketika Prabowo berusaha meng-coup d’etat (baca : ku deta) B. J. Habibie. Bahkan banyak isu yang mengatakan bahwa pasukan Kostrad sampai mengepung kediaman Habibie tanpa sepengetahuan Pangab waktu itu, Jenderal Wiranto. Habibie pun menunjuk Prabowo sebagai orang yang hendak menjatuhkan dirinya dari kursi presiden. Tapi sejauh ini, dugaan itu masih berupa dugaan saja.

Sekarang, Prabowo semakin gencar memposisikan dirinya sebagai orang yang pro-rakyat. Sebelum menyebut dirinya menjadi bakal capres periode 2009-2014, Prabowo juga sukses menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia yang masih dijabat sampai sekarang. Prabowo juga menyandang status Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia. Kedua organisasi yang dipimpinnya, dilihat dari namanya saja, sangat berhubungan dengan kepentingan masyarakat kecil.

Kalau saya pribadi, sangat mengakui kehebatan Prabowo sebagai tentara. Tapi sebagai pemimpin negara, saya ndak tau. Tapi bolehlah, saya pertimbangkan dia sebagai alternatif calon presiden pilihan saya setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hehe!

Sumber:
Koran Rakyat Online
Jakartapress
Wikipedia
Majalah Tempo (16-22 Maret 2009)

3 Responses to “Letjen. (Purn) Prabowo Subianto”


  1. bowo

    ach.. bowo memang hebat :P

    Hehe!

  2. Muthofar Hadi

    BANYAK MEMBICARAKAN “KALAU”. WAKTU REFORMASI YANG DITUNTUT MUNDUR ADALAH PRESIDEN SUHARTO, KEJADIAN ITU ADALAH IMBAS TENTARA SEBAGAI ALAT NEGARA MELINDUNGI PRESIDEN. JADI KEHEBATANNYA ADALAH MENERIMA DIRINYA DITUDUH SEBAGAI DALANG PENCULIKAN DAN PEMBUNUHAN AKTIVIS, PADAHAL SEBELUM MAHASISWA DEMONSTRASI AKTIVIS ITU JUGA MACAM-MACAM AQIDAHNYA. AKU SIH BERDIRI DI AQIDAH ISLAMKU TERUS, SIAPAPUN KAMU DAN MEREKA.

    APAPUN AQIDAHMU, SAMA SEKALI BUKAN URUSANKU. TAPI TERIMA KASIH UNTUK KOMENTARMU YANG BERHUBUNGAN DENGAN TOPIK PRABOWO SUBIANTO. :)

  3. R P Manus

    Tidak ada salahnya Prabowo maju sebagai Wacapres dan bahkan Capres palin tidak pada periode pilpres selanjutnya. Beliau yang dari keluarga sangat terdidik, kebetulan ayah beliau dengan almarhum ayah saya mengecap pendidikan dinegeri Belanda semasa paska revolusi silam dan ibunda Prabowo sendiri yang berdarah Minahasa (Manado) mempunyai adik (tante / bibi dari Prabowo) yang kebetulan juga sangat dekat dengan almarhum ibu saya, bahkan dengan kami sekeluarga. Semua ikatan emosional ini mengalahkan konflik yang ada didalam batin saya dalam menentukan siapa pasangan presiden yang akan saya pilih nanti, dengan kata lain dan bulat saya akan mendukung beliau sebagai cawapres dari Megawati, otomatis Megawati pun harus saya dukung paling tidak untuk periode pilpres kali ini, karena saya yakin jika kemudian pasangan Mega-Pro ini menang, maka pada periode pilpres selanjutnya Prabowo pasti akan maju sebagai capres dan kiranya dengan seizin Allah yang maha kuasa, beliau akan berjuang untuk terus mensejahterahkan bangsa dan rakyat Indonesia dalam kedamaian ditengah-tengah masyarakat yang pluralistik ini. So, maju trus bung, torang dukung ngana bae-bae!

    Terima kasih untuk komentarnya.