Kenapa Harus Nyepi??

by Agung Pushandaka

Tanggal 26 Maret 2009 ini, semua orang di Bali ikut merayakan pergantian tahun Caka (bacanya : Saka) dengan menyepi. Orang awam cuma tau, kalau perayaan Nyepi di Bali itu ndak boleh keluar rumah dan ndak boleh menyalakan lampu. Saya ndak akan menyalahkan pendapat itu, karena saya merasa memang seperti itu faktanya. Di luar 2 hal tadi, sebenarnya ada juga pantangan ndak boleh bekerja dan ndak boleh menikmati hiburan. Tapi yang 2 terakhir, sekarang ini bisa dinikmati di dalam rumah. Jaman internet gitu kan, hiburan bisa didapat di mana saja, bahkan di dalam kamar mandi! Hehe!

Ndak ada yang baru di perayaan Nyepi tahun ini, kecuali himbauan untuk ndak mengadakan pawai ogoh-ogoh di daerah Metro Denpasar, dan larangan beroperasinya tempat hiburan selama sehari penuh saat Nyepi di Kota Tangerang. Selebihnya, sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya.

Tapi jujur, saya jadi bertanya-tanya, kenapa harus menyepi untuk merayakan pergantian tahun Saka? Apa yang jadi latar belakang perayaan dengan cara “nyeleneh” seperti ini? Setelah buka-buka beberapa situs yang menjanjikan informasi tentang Nyepi, saya cuma dapat 2 versi cerita yang hampir seragam.

Versi pertama bilang, bahwa tersebutlah seorang raja di India yang bernama Kaniska I. Dia adalah penguasa dari dinasti Kusana. Tapi, wilayah kerajaannya selalu terganggu oleh konflik antara Kusana dan Saka. Dinasti Saka ndak pernah berhenti melakukan pemberontakan-pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kaniska. Si raja pun berpikir, apa gunanya kekuasaan kalau ndak ada perdamaian.

Maka, Kaniska I berusaha menghentikan pertikaian dengan melalui sebuah diplomasi budaya. Pada hari Minggu, 21 Maret 78 Masehi, Kaniska I menetapkan sebagai hari pertama kalender dengan sistem Saka yang berlaku ndak hanya untuk Dinasti Saka, tapi untuk seluruh wilayah kerajaan. Dinasti Saka sangat menghargai pengakuan Kaniska I atas sistem penanggalan Saka berlaku untuk seluruh wilayah kerajaan. Maka di hari itu, kedua dinasti sepakat ndak ada lagi pertikaian atau perang.

Nah!! Versi kedua bilang, bahwa pada sekitar tahun 70an Masehi itu, India ndak pernah lepas dari konflik dan perang antara Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya. Perang ndak ada habisnya, sampai akhirnya Suku Saka memenangkan pertikaian di bawah kepemimpinan raja Kaniskha I. Sejak itu, diberlakukan sistem penanggalan Saka sebagai penanggalan resmi yang berlaku di wilayah itu, yaitu tanggal 1 (sehari setelah bulan mati kesembilan) bulan 1 (Caitramasa) tahun Saka. Sistem ini diterima oleh semua suku yang dulu bertikai.

Menurut versi ini, hari pertama tahun Saka adalah hari perdamaian, kerukunan, kebersamaan, juga kebangkitan dan pembaharuan. Dibilang hari perdamaian karena pada hari itu, semua suku menghentikan pertikaian. Sementara disebut sebagai hari kebangkitan dan pembaharuan, karena sejak hari itu semua aspek kehidupan beragama dan bermasyarakat di India ditata ulang supaya ndak ada lagi konflik antar kepercayaan dan keyakinan.

Perayaan tahun baru Saka di India disebarluaskan ke seluruh wilayah di sekitar India, bahkan Dwipantara (Indonesia). Adalah seorang pendeta Suku Saka, yang berjuluk Aji Saka, yang membawa kabar tentang perayaan tahun baru Saka ke tanah Jawa. Selain membawa informasi tentang tahun Saka, si pendeta juga menciptakan sistem tulisan dengan aksara Jawa yang berbunyi onocoroko doto sowolo mogobongo podojoyonyo.

Topo soyo, eh, tapi saya ndak tau pasti kenapa perayaan tahun baru Saka di Jawa dan Bali (dan Indonesia sekarang) jadi disebut Hari Nyepi dan dengan penyepian seperti ini. Ternyata, untuk selanjutnya, makna hari perdamaian di tahun baru Saka ndak cuma berdamai dengan sesama manusia. Khusus untuk ritual melakukan penyepian di hari Nyepi, dimaksudkan bahwa kita, manusia harus berdamai dengan penciptanya. Di mana-mana, perdamaian cuma bisa dilakukan dengan dialog. Nah, dengan menyepi seperti itu, kita diharapkan bisa berdialog dengan sang pencipta melalui jiwa yang berada di dalam badan kita.

Yah, jelas aja kita ndak bisa berdialog seperti ngobrol dengan Sang Pencipta. Tapi dialog yang dimaksud, mungkin dengan introspeksi. Kita ceritakan apa yang sudah kita lakukan selama setahun kemarin. Dengan berintrospeksi dalam sepi kita mungkin dapat jawaban yang lebih bijak untuk langkah selanjutnya di tahun ke depan. Kalau dipikir-pikir, jawaban itu kita dapat dari pikiran sendiri kok. Tapi yang menjalankan pikiran kan jiwa kita. Nah, jiwa kita dari siapa coba? Mungkin seperti itu maksudnya dialog spiritual yang diharapkan terjadi di hari Nyepi.

Makna damai pun meluas ndak hanya dengan Sang Pencipta. Tapi juga dengan alam. Kita tau, manusia dan alam sekarang lagi sengit-sengitnya bertikai. Manusia menyerang alam dengan pemanfaatan potensi alam dengan berlebihan, sementara alam melawan dengan semua bentuk bencana yang diciptakannya. Ajakan berdamai dengan alam, dilakukan manusia dengan melakukan ritual mekiyis (melis).

Selain dengan alam, perdamaian juga diharapkan terjadi antara manusia dengan para butha. Butha ni apa ya, kalau bisa dibilang? Menurut saya, butha ini adalah spirit buruk yang ada di dunia. Berdamai dengan para butha adalah untuk kepentingan kedamaian dunia (buana agung) dan kedamaian hati (buana alit). Ajakan berdamai dengan para butha dilakukan dengan ritual tawur agung. Ritual mekiyis dan tawur agung dilakukan sebelum hari Nyepi.

Setelah berdamai dengan semuanya di atas, kita juga harus berdamai dengan sesama. Perdamaian ini dilakukan dengan ritual saling mengunjungi, atau kalau bahasa sininya, dibilang mesima krama. Ritual ini dilakukan sehari setelah Nyepi. Saling mengucapkan maaf untuk semua kesalahan di tahun kemarin, dan saling mengucapkan terima kasih untuk semua kebaikan, pasti akan meneduhkan hati setiap orang.

Ah, tapi semua itu kan cuma teori. Apa iya manusia bisa seperti itu? Apalagi jaman sekarang, iya kan?? Bisa atau ndak, sebenarnya ndak penting. Yang lebih penting adalah bahwa ada upaya untuk melakukan itu di hari Nyepi. Kalau ternyata ndak bisa, coba lagi tahun depan kalau umur panjang. Cuma ya perdamaian, terutama damai dengan Tuhan dan sesama manusia, seharusnya terjadi setiap hari. Sehari dalam setahun ndak akan cukup untuk mendamaikan pertikaian. Tapi, rasanya lebih baik sehari daripada ndak sama sekali. Hihi!

Jadi, apakah anda menyepi di hari Nyepi??