<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Cobalah Untuk Menerima, atau Pergilah..</title>
	<atom:link href="http://pushandaka.com/2009/03/cobalah-untuk-menerima-atau-pergilah.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pushandaka.com/2009/03/cobalah-untuk-menerima-atau-pergilah.html</link>
	<description>Habis Baca Terbitlah Nulis</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 05:07:47 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: Hendra W Saputro</title>
		<link>http://pushandaka.com/2009/03/cobalah-untuk-menerima-atau-pergilah.html#comment-27</link>
		<dc:creator>Hendra W Saputro</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 13:53:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pushandaka.com/?p=21#comment-27</guid>
		<description>Kalo saya, jika menemui suatu kelompok yang bertolak belakang secara pemikiran, biasanya lebih memilih diam dan mengamati saja. Levelisasi ketidakcocokan mempunyai tingkatan sendiri-sendiri. Jika memang saya mendapatkan siksa lahir dan batin serta banyak ruginya, tetap akan diam dan pasang kuda-kuda (tameng) untuk melindungi diri.

Diam dan menyendiri memang dibutuhkan oleh manusia, mungkin lebih ke diri saya pribadi sih. Kalau pergi, tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau saya, akan merasa kalah. Dan ini akan menyiksa diri jika saya kalah hehehe.

Tulisan bagus bli. Ini menunjukkan bahwa manusia itu memang berbeda satu sama lain. Kebersamaan itu tercipta dari saling menghormati dan memahami perbedaan.

&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Makasih buat masukannya Mas. Tapi seperti yang saya bilang, langkah pertama yang saya coba lakukan adalah mencoba untuk menerima kebiasaan teman baru, dan itu saya lakukan dengan diam. Saya membiarkan dia/mereka melakukan kebiasaannya. Andaikata saya tetap ndak bisa, atau lama-lama menjadi bosan untuk diam, saya lebih baik memilih pergi daripada harus berkonfrontasi dengan dia/mereka yang saya yakini ndak ada untungnya buat saya. Gitu Mas..&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo saya, jika menemui suatu kelompok yang bertolak belakang secara pemikiran, biasanya lebih memilih diam dan mengamati saja. Levelisasi ketidakcocokan mempunyai tingkatan sendiri-sendiri. Jika memang saya mendapatkan siksa lahir dan batin serta banyak ruginya, tetap akan diam dan pasang kuda-kuda (tameng) untuk melindungi diri.</p>
<p>Diam dan menyendiri memang dibutuhkan oleh manusia, mungkin lebih ke diri saya pribadi sih. Kalau pergi, tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau saya, akan merasa kalah. Dan ini akan menyiksa diri jika saya kalah hehehe.</p>
<p>Tulisan bagus bli. Ini menunjukkan bahwa manusia itu memang berbeda satu sama lain. Kebersamaan itu tercipta dari saling menghormati dan memahami perbedaan.</p>
<blockquote><p><strong>Makasih buat masukannya Mas. Tapi seperti yang saya bilang, langkah pertama yang saya coba lakukan adalah mencoba untuk menerima kebiasaan teman baru, dan itu saya lakukan dengan diam. Saya membiarkan dia/mereka melakukan kebiasaannya. Andaikata saya tetap ndak bisa, atau lama-lama menjadi bosan untuk diam, saya lebih baik memilih pergi daripada harus berkonfrontasi dengan dia/mereka yang saya yakini ndak ada untungnya buat saya. Gitu Mas..</strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pushandaka</title>
		<link>http://pushandaka.com/2009/03/cobalah-untuk-menerima-atau-pergilah.html#comment-22</link>
		<dc:creator>pushandaka</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:21:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pushandaka.com/?p=21#comment-22</guid>
		<description>Sabar Ton..

Kalo kasusnya seperti itu, karena kebiasaan satu orang di dalam kelompok yang ndak saya suka, trus saya meninggalkan kelompok, itu bukan karena saya memukul rata semua orang di kelompok itu sama seperti orang yang itu. Saya akan meninggalkan kelompoknya, kalo ternyata saya merasa semua anggota kelompok bisa menerima kebiasaan orang itu. Ndak mungkin donk, saya trus menghasut teman-teman lainnya untuk ikut ndak menerima kebiasaan orang itu.

Justru saya menghormati pilihan teman-teman lain yang bisa atau minimal mau mencoba untuk menerima kebiasaan orang itu. Gitu boss! (sekedar catatan, si a! ini adalah big bossnya Bali Blogger Community, komunitas di mana blog ini numpang eksis)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sabar Ton..</p>
<p>Kalo kasusnya seperti itu, karena kebiasaan satu orang di dalam kelompok yang ndak saya suka, trus saya meninggalkan kelompok, itu bukan karena saya memukul rata semua orang di kelompok itu sama seperti orang yang itu. Saya akan meninggalkan kelompoknya, kalo ternyata saya merasa semua anggota kelompok bisa menerima kebiasaan orang itu. Ndak mungkin donk, saya trus menghasut teman-teman lainnya untuk ikut ndak menerima kebiasaan orang itu.</p>
<p>Justru saya menghormati pilihan teman-teman lain yang bisa atau minimal mau mencoba untuk menerima kebiasaan orang itu. Gitu boss! (sekedar catatan, si a! ini adalah big bossnya Bali Blogger Community, komunitas di mana blog ini numpang eksis)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: a!</title>
		<link>http://pushandaka.com/2009/03/cobalah-untuk-menerima-atau-pergilah.html#comment-20</link>
		<dc:creator>a!</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 08:44:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pushandaka.com/?p=21#comment-20</guid>
		<description>gung, aku ralat ya. 

setauku yg membuatmu gak nyaman tuh bukan suasananya tapi gaya satu orang itu saja. agak overgeneralisir kalau contoh dari satu orang itu kemudian kamu pukul rata sebagai sikap seluruh kelompok tersebut. ini yg disebut stereotipe. dan itu berbahaya.

kita menilai satu kelompok hanya dari apa yg terlihat, dan parahnya itu yg jelek. kenapa tidak melihat kelompok itu dari yg enak2: becanda, banyak teman, jalan-jalan, makan2..

kalo ada satu yg jelek, ya itu sudah keniscayaan. tidak ada yg sempurna..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gung, aku ralat ya. </p>
<p>setauku yg membuatmu gak nyaman tuh bukan suasananya tapi gaya satu orang itu saja. agak overgeneralisir kalau contoh dari satu orang itu kemudian kamu pukul rata sebagai sikap seluruh kelompok tersebut. ini yg disebut stereotipe. dan itu berbahaya.</p>
<p>kita menilai satu kelompok hanya dari apa yg terlihat, dan parahnya itu yg jelek. kenapa tidak melihat kelompok itu dari yg enak2: becanda, banyak teman, jalan-jalan, makan2..</p>
<p>kalo ada satu yg jelek, ya itu sudah keniscayaan. tidak ada yg sempurna..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pushandaka</title>
		<link>http://pushandaka.com/2009/03/cobalah-untuk-menerima-atau-pergilah.html#comment-17</link>
		<dc:creator>pushandaka</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 07:21:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pushandaka.com/?p=21#comment-17</guid>
		<description>Sabar wo..
Aku memilih pergi karena aku ngrasa ini yang paling bagus. Daripada aku marah-marah ndak karuan, ya kan? Pergi bukan maksudnya tinggalin phisically. Tapi, ndak mau lagi punya urusan sama dia/mereka. Kalau misalnya aku harus berada di lokasi yang sama untuk kegiatan yang sama, ya ndak apa-apa. Tapi sebisa mungkin aku akan menolak segala urusan yang melibatkan aku dan dia/mereka secara bersamaan.

Masalah banyak teman banyak bantuan, aku sebenarnya juga punya asas yang sama seperti itu. Tapi aku mending sedikit teman gpp, asal berkualitas. Hehe!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sabar wo..<br />
Aku memilih pergi karena aku ngrasa ini yang paling bagus. Daripada aku marah-marah ndak karuan, ya kan? Pergi bukan maksudnya tinggalin phisically. Tapi, ndak mau lagi punya urusan sama dia/mereka. Kalau misalnya aku harus berada di lokasi yang sama untuk kegiatan yang sama, ya ndak apa-apa. Tapi sebisa mungkin aku akan menolak segala urusan yang melibatkan aku dan dia/mereka secara bersamaan.</p>
<p>Masalah banyak teman banyak bantuan, aku sebenarnya juga punya asas yang sama seperti itu. Tapi aku mending sedikit teman gpp, asal berkualitas. Hehe!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: thelo</title>
		<link>http://pushandaka.com/2009/03/cobalah-untuk-menerima-atau-pergilah.html#comment-9</link>
		<dc:creator>thelo</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 09:00:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pushandaka.com/?p=21#comment-9</guid>
		<description>hm... rasanya kok jahat banget ya!
&quot;pergilah&quot; semudah itukah? klo aku, semisal ga bisa menerima ya ga sampe segitunya untuk pergi menjauh, yah paling gak nambah vocab pertemanan aja, semain beragam teman yang kita dapet bukannya itu bakal bisa membantu kita kelak, paling gak kita punya orang yang bisa ditanya ketika menghadapi situasi yg mungkin teman kita lebih mengenalnya hehe.. piss gung..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hm&#8230; rasanya kok jahat banget ya!<br />
&#8220;pergilah&#8221; semudah itukah? klo aku, semisal ga bisa menerima ya ga sampe segitunya untuk pergi menjauh, yah paling gak nambah vocab pertemanan aja, semain beragam teman yang kita dapet bukannya itu bakal bisa membantu kita kelak, paling gak kita punya orang yang bisa ditanya ketika menghadapi situasi yg mungkin teman kita lebih mengenalnya hehe.. piss gung..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
